Mengaku Cinta di Balik Keterbatasan: Seni Menerima Diri di Hadapan Ilahi

Viqie Ixbal Maulana, Lc., M.Pd. | 09 Juni 2026

Detail literasi:

Di saat banyak orang yang serba menuntut kesempurnaan, kita sering kali terjebak dalam rasa bersalah yang tak berkesudahan. Saat melihat figur-figur hebat, atau kisah manusia-manusia suci di masa lalu, kita kerap merasa menjadi hamba yang "gagal". Keimanan kita terasa rapuh, ibadah kita tampak compang-camping, dan akhlak kita masih jauh dari kata mulia.

 

Namun, sebuah untaian muhasabah (introspeksi) yang belakangan ini menyentuh hati banyak orang, mengingatkan kita pada satu esensi paling mendasar dalam hubungan antara makhluk dan Penciptanya: Kejujuran.

Mari kita renungkan bait-bait pengakuan yang menggetarkan jiwa ini:

 

﴿أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۖ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ ﴾

يَا الله :

إِنِّي لَا أُصَلِّي لَكَ كَمَا يَلِيقُ بِكَ

وَلَا أَصُومُ كَمَا كَانَ يَفْعَلُ دَاوُدُ

وَلَا أَصْبِرُ إِذَا مَرِضْتُ كَمَا صَبَرَ أَيُّوبُ

وَلَا أُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ تَسْبِيحَ يُونُسَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ

وَلَا آخُذُ دِينِي بِقُوَّةٍ كَيَحْيَى

وَلَا أَغُضُّ بَصَرِي كَمَا غَضَّ يُوسُفُ كُلَّ جَوَارِحِهِ

وَلَسْتُ مُتَسَامِحًا لِحَدِّ الْقَوْلِ: "اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ".

وَلَكِنِّي مِثْلُهُمْ يَا الله... أُحِبُّكَ.

"Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." (QS. Al-An'am: 90)

Ya Allah:

Sesungguhnya aku tidak salat kepada-Mu dengan cara yang layak bagi-Mu,

Aku tidak berpuasa seperti yang dilakukan Daud,

Aku tidak bersabar ketika sakit seperti sabarnya Ayyub,

Aku tidak bertasbih memuji-Mu seperti tasbihnya Yunus di dalam perut paus,

Aku tidak mengambil (menjalankan) agamaku dengan kuat seperti Yahya,

Aku tidak menundukkan pandanganku seperti Yusuf menundukkan seluruh panca inderanya,

Dan aku pun bukanlah seorang pemaaf hingga batas mampu mengatakan: "Pergilah, kalian sekarang merdeka (bebas)."

Namun... sama seperti mereka ya Allah, aku mencintai-Mu.¹

Teks di atas dibuka dengan sebuah visualisasi yang kontras. Di satu sisi, ada kutipan Surah Al-An'am ayat 90: “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” Ayat ini adalah standar tertinggi—sebuah potret ideal tentang bagaimana para nabi menjalani ketaatan.

Namun di sisi lain, penulis teks ini mengajak kita turun ke bumi, menatap cermin diri kita yang retak.

Kita akui bahwa kita bukanlah Nabi Daud yang menghabiskan separuh tahunnya untuk berpuasa, bukan Nabi Ayyub yang tubuh dan hartanya habis digerus penyakit namun lisannya tetap basah oleh syukur, bukan Nabi Yunus yang mampu mengubah kegelapan perut paus menjadi ruang ruku' dan sujud yang syahdu, bukan Nabi Yahya yang begitu teguh memegang perintah dan laranganmu, dan bukan pula Nabi Yusuf yang selalu menjaga pandangannya dari kemaksiatan dan keburukan.

Bahkan untuk urusan sosial, kita dipaksa sadar bahwa ego kita terlampau besar. Kita belum mampu meniru kelapangan dada Nabi Muhammad ﷺ saat menaklukkan Kota Mekah. Ketika beliau berada di puncak kejayaan, di hadapan orang-orang yang dulu menyiksa dan mengusirnya, beliau justru melepaskan dendam dan berkata: “Idzhabu fa antumut thulaqa... Pergilah, kalian sekarang merdeka.”

Sedangkan kita? Disenggol sedikit oleh perkataan tetangga atau teman kerja saja, dendamnya bisa membekas hingga berbulan-bulan.

Pintu Bernama "Ketidaksempurnaan"

Membaca untaian kalimat ini sebenarnya bukanlah bentuk keputusasaan. Sebaliknya, ini adalah bentuk literasi spiritual yang sangat sehat. Sering kali, kita menjauh dari agama karena merasa "tidak pantas". Kita merasa bahwa untuk menghadap Allah, kita harus menjadi suci terlebih dahulu.

Padahal, mengakui kelemahan adalah langkah pertama dari pertobatan. Keindahan teks ini terletak pada keberaniannya untuk menanggalkan topeng kepura-puraan di hadapan Allah. Ia tidak berpura-pura khusyuk, ia tidak berpura-pura kuat, ia tidak berpura-pura suci.

Muara dari Segala Rasa: "Aku Mencintai-Mu"

Artikel ini, dan teks yang kita baca, ditutup dengan sebuah kalimat pamungkas yang menjadi jembatan penyelamat bagi jiwa-jiwa yang rapuh:

"Namun... sama seperti mereka ya Allah, aku mencintai-Mu."

Kalimat ini adalah sebuah oase. Ia menegaskan bahwa meski kita tidak memiliki kualitas ibadah setara para nabi dan kekasih Allah, kita memiliki modal spiritual yang sama besarnya dengan mereka, yaitu rasa cinta (Mahabbah) kepada Allah.

Cinta adalah bahan bakar yang membuat seorang hamba yang terseok-seok tetap mau melangkah. Cinta yang membuat seseorang yang mengantuk tetap memaksakan diri bangun untuk subuh, meski salatnya belum khusuk. Cinta yang membuat seseorang tetap mau beristigfar, meski beberapa jam kemudian ia terjatuh lagi pada dosa yang sama.

"Ya Allah, aku ini rapuh, tapi aku mencintai-Mu. Maka terimalah aku apa adanya."

 

¹Tabirasailum minal Qur'an

Berita Lain Semua Berita

Literasi GTK Semua Literasi

Copyright © 2023 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo