Menyulam Mimpi ke Negeri Ginseng (Seri ke-14) Paparan Sistem Pendidikan Korea oleh KBRI Seoul dan GIEI

Ernawati Kristinningrum, S.T., M.Pd. | 24 November 2025

Detail literasi:

Senin, 20 Oktober 2025.

Pagi di Seoul terasa berbeda. Langit cerah menyambut hari, namun udara dingin menusuk hingga 9°C—lebih dingin dibandingkan hari-hari sebelumnya di Sokcho yang berkisar 16–18°C. Dari jendela kamar Shilla Stay Mapo, terlihat aktivitas ibu kota yang begitu dinamis: lalu lintas padat namun tertib, pejalan kaki bergerak cepat, dan ritme kota berjalan dengan disiplin tinggi.

Setelah menikmati sarapan pagi ala Korea yang hangat dan lezat, seluruh delegasi KLIC Indonesia 2025 bersiap melanjutkan agenda penting hari itu: memenuhi undangan resmi dari KBRI Seoul.

Pagi itu terasa istimewa bagi saya pribadi. Saya mengenakan seragam Aisyiyah sebagai identitas organisasi yang saya banggakan. Tanpa diduga, beberapa rekan delegasi mengajak saya berfoto bersama. Momen sederhana ini menjadi refleksi kecil bahwa identitas dan nilai yang kita bawa ternyata mampu menginspirasi dan membangun kebanggaan bersama, bahkan di negeri orang.

Perjalanan menuju KBRI Seoul hanya memakan waktu sekitar 20 menit. Setibanya di lokasi, kami langsung diarahkan menuju aula yang telah dipersiapkan dengan sangat rapi. Suasana hangat terasa sejak awal, lengkap dengan suguhan snack khas Korea yang menambah keakraban.

Kami disambut oleh Amaliah Fitriah selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Seoul. Beliau kemudian mendampingi So Hee Paek dari GIEI yang memaparkan sistem pendidikan Korea, khususnya di Provinsi Gangwon.

Penulis (kiri) bersama Ibu Ismiati dari Mamuju Sulawesi Barat

 

Dalam pengantarnya, Ibu Amaliah menyampaikan apresiasi tinggi terhadap program KLIC. Selama dua tahun masa tugasnya, program ini telah dua kali dilaksanakan dan dinilai memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan kompetensi guru Indonesia, khususnya dalam bidang digitalisasi pembelajaran. Korea Selatan yang dikenal sebagai negara maju dalam teknologi pendidikan menjadi mitra strategis yang tepat dalam pengembangan kualitas guru.

Paparan kemudian berlanjut pada konteks sosial masyarakat Korea Selatan yang cukup menarik. Berbeda dengan Indonesia yang saat ini sedang menikmati bonus demografi, Korea Selatan justru menghadapi fenomena Aging Population, yaitu penurunan angka kelahiran yang signifikan. Kondisi ini berdampak pada berkurangnya jumlah penduduk usia produktif dan menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan pembangunan, termasuk di sektor pendidikan.
 

Penulis (kiri) bersama Ibu Jamilah dari Bangka Belitung

 

Melalui penjelasan yang disampaikan, kami diajak memahami bahwa sistem pendidikan Korea memiliki kesamaan dengan Indonesia dalam hal desentralisasi. Pemerintah pusat bertanggung jawab terhadap kebijakan nasional, namun pemerintah daerah memiliki otonomi luas dalam penyelenggaraan pendidikan.

Hal menarik yang menjadi perhatian adalah mekanisme pemilihan kepala dinas pendidikan di tingkat provinsi yang dilakukan melalui pemilu. Hal ini menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap kapasitas daerah dalam mengelola pendidikan secara mandiri. Pemerintah pusat lebih berperan dalam fungsi evaluasi dan penyempurnaan kebijakan.

Dalam aspek tenaga pendidik, Korea memiliki sistem karier guru yang sangat terstruktur. Terdapat jenjang profesional yang jelas, mulai dari teacher, master teacher, hingga principal. Setiap jenjang memiliki standar kompetensi dan proses seleksi yang ketat, sehingga kualitas guru tetap terjaga dan terus berkembang.

Struktur pendidikan di Korea pun relatif serupa dengan Indonesia, yaitu enam tahun sekolah dasar, tiga tahun sekolah menengah pertama, dan tiga tahun sekolah menengah atas. Namun, yang membedakan adalah adanya berbagai sekolah spesialis seperti sekolah seni, olahraga, hingga sains berbasis STEM yang dirancang untuk mengembangkan potensi siswa secara lebih spesifik sejak dini.

Selain itu, pendidikan vokasi juga berkembang pesat melalui berbagai institusi seperti junior college, politeknik, hingga sekolah industri yang terhubung langsung dengan kebutuhan dunia kerja. Menariknya, beberapa institusi vokasi berada di bawah kementerian tenaga kerja, bukan kementerian pendidikan.

Hal lain yang sangat menginspirasi adalah kebijakan pendidikan gratis di sekolah negeri yang bahkan dimulai sejak usia dini. Daycare untuk anak usia 1 tahun hingga pendidikan anak usia dini telah difasilitasi oleh pemerintah. Tujuan utamanya adalah memberikan dukungan kepada orang tua, khususnya ibu, agar tetap dapat berkarier tanpa mengabaikan tumbuh kembang anak.

 

Penulis (kiri) bersama Ibu Lusiana dari Purworejo Jawa Tengah

 

Program makan siang gratis di sekolah juga menjadi salah satu keunggulan sistem pendidikan Korea. Program ini telah berjalan sejak tahun 1990-an dan terus berkembang hingga kini. Pengelolaannya dilakukan langsung oleh sekolah, mulai dari penyediaan infrastruktur hingga tenaga ahli gizi. Pemerintah menyediakan anggaran, namun tanggung jawab operasional tetap berada di sekolah. Hal ini menciptakan sistem yang lebih akuntabel dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan.

Selain itu, proses pengajuan anggaran pendidikan di Korea juga cukup ketat dan memerlukan perencanaan matang. Namun, pemerintah daerah memiliki fleksibilitas untuk membantu pembiayaan pendidikan sebagai bentuk investasi jangka panjang. Koordinasi rutin antar pemangku kebijakan menjadi kunci keberhasilan sistem ini.

Usai sesi pemaparan, suasana berubah menjadi lebih santai. Para delegasi menikmati waktu istirahat sambil berbincang dan bertukar pengalaman. Dalam kesempatan tersebut, saya memberanikan diri menghampiri Ibu Amaliah Fitriah.

Saat saya memperkenalkan diri sebagai guru dari SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, beliau memberikan respon yang sangat hangat dan membanggakan. Beliau menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya saya sebagai peserta KLIC Indonesia 2025.

Menurut beliau, proses seleksi peserta KLIC yang dilakukan oleh Kemendikdasmen sangat ketat, sehingga guru-guru yang terpilih merupakan representasi terbaik dari berbagai daerah di Indonesia. Oleh karena itu, keikutsertaan dalam program ini bukan hanya sebuah kesempatan, tetapi juga amanah besar untuk membawa perubahan.

Beliau juga menegaskan bahwa Korea Selatan merupakan salah satu pionir dalam teknologi pendidikan. Oleh karena itu, ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama mengikuti program KLIC memiliki nilai strategis untuk diimplementasikan di Indonesia, baik di lingkungan sekolah, komunitas MGMP, maupun dalam ekosistem pendidikan yang lebih luas.

Percakapan singkat tersebut menjadi momen reflektif yang sangat berkesan. Ada rasa bangga, haru, sekaligus tanggung jawab yang semakin kuat sebagai seorang pendidik.

Tak terasa, waktu kunjungan di KBRI Seoul pun berakhir. Kami menutup kegiatan dengan penuh rasa syukur atas sambutan hangat dan ilmu berharga yang telah diberikan.

Perjalanan masih berlanjut, membawa kami pada pengalaman-pengalaman baru yang tak kalah bermakna.

Sampai jumpa di seri berikutnya.

Gamsahamnida.

 

Lampiran pdf:

Berita Lain Semua Berita

Literasi GTK Semua Literasi

Copyright © 2023 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo