Detail literasi:
Selasa, 21 Oktober 2025.
Setiap perjalanan indah selalu memiliki garis akhir. Begitu pula rangkaian kegiatan KLIC Indonesia 2025 di Korea Selatan. Setelah hari-hari penuh pembelajaran, kunjungan sekolah, wisata budaya, dan pengalaman internasional yang berharga, tibalah saat seluruh delegasi bersiap kembali ke Indonesia.
Pagi itu suasana terasa berbeda. Tidak ada lagi jadwal kunjungan ke sekolah unggulan, tidak ada lagi seminar teknologi pendidikan, dan tidak ada lagi destinasi wisata yang menanti. Yang ada hanyalah koper-koper yang telah tertata rapi, kenangan yang tersimpan dalam hati, dan rasa haru karena harus meninggalkan negeri ginseng yang telah memberikan banyak pengalaman.
Dengan penuh keramahan, So Hee Paek dan Kim Mi Hyang setia mengantar seluruh delegasi menuju Incheon International Airport. Sejak hari pertama kedatangan hingga kini, keduanya selalu hadir dengan senyum, perhatian, dan kesabaran dalam mendampingi kami.
Di sepanjang perjalanan menuju bandara, suasana bus lebih tenang dari biasanya. Masing-masing larut dalam pikiran sendiri. Ada yang memandangi jalanan Seoul dari balik kaca, ada yang membuka kembali foto-foto di ponsel, ada pula yang sesekali bercanda kecil untuk mencairkan suasana.
Setibanya di bandara, momen perpisahan tak terelakkan.
Pelukan hangat, lambaian tangan, dan ucapan terima kasih saling bertukar antara delegasi Indonesia dan panitia GIEI. Meski hanya beberapa hari bersama, kebersamaan yang terjalin terasa begitu dekat. Hubungan yang awalnya formal berubah menjadi persaudaraan yang tulus.
Kami dijadwalkan terbang pukul 15.00 waktu Korea Selatan menuju Indonesia.
Perjalanan pulang kembali menggunakan Korean Air, maskapai yang juga mengantar kami saat keberangkatan dari Jakarta. Penerbangan langsung dari Incheon International Airport menuju Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta ini menempuh waktu sekitar tujuh jam.
Pesawat yang digunakan merupakan armada nyaman untuk penerbangan jarak jauh, dengan kabin lega dan pelayanan yang sangat baik. Begitu memasuki pesawat, kami menempati kursi masing-masing. Seperti saat keberangkatan, para delegasi tidak duduk berdekatan, melainkan tersebar di berbagai baris.
Awalnya memang terasa canggung karena tidak berada satu bangku dengan teman sesama peserta. Namun justru dari situlah pengalaman baru muncul.
Saya duduk bersebelahan dengan seorang ibu asal Korea yang ternyata memiliki suami orang Indonesia. Beliau sangat ramah dan beberapa kali membantu saya memahami menu makanan yang disajikan di pesawat.
Menu penerbangan hari itu cukup menggugah selera. Tersedia pilihan chicken potato dan Bibimbap, nasi khas Korea dengan campuran lauk dan sayuran yang terkenal di seluruh dunia. Beliau bahkan menunjukkan cara menikmati hidangan tersebut agar terasa lebih nikmat. Sebuah kebaikan kecil yang terasa hangat di tengah perjalanan panjang.
Tidak ketinggalan, es krim disajikan sebagai hidangan penutup. Momen sederhana itu membuat perjalanan tujuh jam terasa jauh lebih singkat.
Di sela waktu penerbangan, pikiran saya melayang pada seluruh pengalaman selama mengikuti KLIC 2025.
Tentang sambutan hangat di sekolah-sekolah Korea.
Tentang teknologi pembelajaran berbasis AI yang sangat maju.
Tentang budaya disiplin masyarakat Korea Selatan.
Tentang keindahan Gunung Seorak, Nami Island, Gyeongbok Palace, dan Namsan Tower.
Tentang kebersamaan delegasi dari berbagai provinsi di Indonesia yang saling menguatkan.
Semua pengalaman itu seolah berputar kembali seperti film di kepala.
Tak terasa, sekitar pukul 20.00 WIB, roda pesawat akhirnya menyentuh landasan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.
Alhamdulillah.
Perjalanan pergi dan pulang Indonesia–Korea Selatan berjalan lancar. Seluruh delegasi tiba dengan selamat, sehat, dan membawa cerita yang tak ternilai.
Namun perjalanan kami ternyata belum benar-benar selesai.
Dari bandara, seluruh delegasi masih harus melanjutkan perjalanan menuju Golden Boutique Hotel Melawai di Jakarta Selatan. Tempat ini menjadi lokasi transit sekaligus satu hari karantina sebelum peserta kembali ke daerah masing-masing.
Meski tubuh mulai lelah setelah perjalanan panjang, semangat kami tetap terasa. Di dalam hati, tersimpan tekad baru untuk menjadi guru yang terus belajar, terus berkembang, dan mampu berdamai dengan teknologi.
Program KLIC bukan sekadar perjalanan luar negeri.
Ia adalah perjalanan transformasi.
Kami berangkat sebagai guru yang ingin belajar, dan pulang sebagai guru yang membawa gagasan baru untuk masa depan pendidikan Indonesia.
Sampai jumpa di kegiatan esok hari, 22 Oktober 2025, di Golden Boutique Melawai.
Gamsahamnida.